[Resensi Novel] Kau, Aku dan Sepucuk Angpao Merah

19.46.00


Judul: Kau, Aku dan Sepucuk Angpao Merah

Penulis: Tere Liye 

Halaman: 507

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama


Novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpao Merah merupakan salah satu novel karya penulis best seller Tere Liye. Novel ini berlatar kehidupan di aliran Sungai Kapuas, Kalimantan Barat.

Segala sesuatu yang terjadi pada setiap manusia merupakan ketetapan Allah. Menyesali terlalu dalam akan sesuatu tidak akan merubah keadaan yang sudah terjadi.


Tokoh utama novel ini adalah Borno. Nama tersebut diambil dari nama lain pulau Kalimantan sendiri yaitu Borneo. Dengan hanya menghilangkan huruf 'e'. Dia adalah salah satu anak yang lahir dan tinggal di perairan sungai Kapuas. Sungai menjadi salah satu nadi kehidupan bagi masyarakat di Kalimantan. Banyak aktifitas di lakukan di sungai. Mulai dari mandi, mencuci, bahkan tidak sedikit yang mengantungkan kehidupan dari sungai atau air. Salah satunya adalah ayah Borno.

Di usia 12 tahun Borno harus kehilangan ayahnya karena digigit ubur-ubur beracun  saat mencari ikan. Sewaktu meninggal ayah Borno mendonorkan jantungnya untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Keputusan pendonoran jantung tersebut menjadi sebuah kenangan pahit bagi orang-orang yang berhubungan dengan prosesnya, salah satunya Borno.


Di usia yang  masih muda Borno sudah harus menjadi seorang anak yatim. Berkat usaha ibu serta ketekunannya, dia menyelesaikan sekolah sampai SMA. Kemudian memilih bekerja meskipun sebenarnya memiliki keinginan untuk kuliah. Namun, dia sadar akan keadaan emaknya. Di mulai bekerja di pabrik pengolahan karet, dimana setiap pulang kerja selalu di olok-olok orang karena baunya seperti karet. Akhirnya berhenti. Kemudian bekerja sebagai penjaga karcis di Kapal Pelampung, sehingga para pengemudi Sepit memusuhinya karena dianggap berkhianat.

Pada akhirnya Borno menerima tawaran Pak Tua, salah satu pengemudi Sepit(perahu di Kalimantan) untuk belajar mengemudikan perahu. Dan, berkat sumbangan pengemudi Sepit dan para penumpang, Borno mendapatkan Sepit baru sebagai tempat bekerja yang baru.

Saat mengemudi Sepit inilah Borno tertarik dengan seorang gadis  beretnis Cina yang memakai payung merah. Semenjak pertemuan pertama mereka, dia selalu teringat gadis itu. Apalagi semenjak ditemukan Angpao berwarna merah yang memang sengaja dijatuhkan gadis itu di kapal Borno.

Gadis dengan payung merah itu bernama Mei. Demi bertemu dengan gadis tersebut Borno rela bangun pagi supaya bisa antri Sepit diurutan ke-13 atau saat jam menunjukkan pukul 07.15. Jam dimana Mei biasa naik Sepit. Terkadang dia beruntung bisa bersama Mei dalam satu perahu. Tetapi tidak jarang juga urutan tersebut tidak pas, bisa karena Mei ikut Sepit sebelum Borno atau Sepit sesudahnya.

Angpao merah itu memang sengaja dijatuhkan Mei untuk Borno sebagai tanda permintaan maaf karena ibu Mei yang bertanggung jawab dalam pencangkokan jantung ayah Borno di masa lalu. Namun, hingga rasa cinta tumbuh subur diantara mereka, Angpao merah tersebut tidak pernah dibuka oleh Borno.

Hingga akhirnya tumbuh rasa cinta diantara mereka. Sampai akhirnya Mei memilih kembali ke Surabaya karena tidak sanggup menghadapi kenyataan jika Borno tahu siapa dia sebenarnya. Meninggalkan Borno yang kebingungan mencari keberadaannya.

Berkat usaha dan kerja keras Borno bisa memiliki sebuah bengkel mobil yang cukup besar di Pontianak.

Borno akhirnya membuka angpao merah Mei yang telah disimpan di almarinya. Meskipun dia tahu siapa Mei sesungguhnya. Namun, perasaan Borno pada Mei tidak berubah. "Mambenci atau dendam terhadap Mei dan keluarganya pun tidak akan mengembalikan keberadaan Bapak Borno ke dunia."

Selain menceritakan Borno dan Mei, dalam novel ini juga mengajarkan pada kita arti sebuah keluarga sebenarnya yaitu mereka yang berada di sekitar kita. Bagaimana mereka bergantian merawat Pak Tua yang tidak mempunyai keluarga.

Terkadang dalam kehidupan bertetangga kita sering menjumpai orang-orang yang mempunyai sifat tidak sesuai dengan kita. Namun, walau bagaimana pun sifat mereka. Merekalah orang yang mendengar teriakan kita pertama kali. Maka, baik-baiklah hidup bertetangga.






You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Pages

Like us on Facebook

Flickr Images