Advertisement

Responsive Advertisement

Resensi Buku Selamat Tinggal-Tere Liye. Pembajakan, kejujuran dan cinta




Resensi buku Selamat Tinggal-Tere Liye. Pembajakan, kejujuran dan cinta. Seseorang yang pergi tanpa pamit, pasti memiliki alasan yang sulit untuk diucapkan. Begitu juga dengan Sutan Pane yang tiba-tiba menghilang dari dunia kepenulisan. 

"Kita tidak pernah sempurna. Kita mungkin punya keburukkan, melakukan kesalahan. Bahkan berbuat jahat kepada orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi, memperbaikinya, dan menebus kesalahan tersebut. Berani mengucapkan 'Selamat Tinggal'." 

Judul Buku: Selamat Tinggal
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Halaman: 350

Banyak pembaca yang terkecok dengan novel Selamat Tinggal karya Tere Liye ini. Termasuk saya. Sebelum membaca buku ini, pikiran saya menerka kalau isi buku tentang kisah seseorang yang hobi naik gunung. Hal ini sesuai dengan promosi penulis "Bagi yang suka naik gunung, buku ini sesuai untuk mereka." Namun, setelah membacanya, ternyata isi buku berbeda jauh dengan perkiraan saya. Meskipun berbeda dengan perkiraan, buku ini tetap asyik dibaca.

Tokoh utama adalah Sintong Tinggal. Seorang pemuda kelahiran Sumatera Utara yang berhasil lolos masuk universitas ternama di negara ini mengambil jurusan Sastra.

Akhirnya kehidupan Sintong dari kampung di Sumut berubah menjadi anak Jakarta. Untuk biaya kuliah, Dia dibiayai oleh pamannya. Namun, sebagai imbalan untuk biaya kuliah, Sintong dimintai bantuan untuk menjaga toko buku bajakan yang ada dibelakang kampus,

Tere Liye merupakan salah satu penulis yang berkali-kali mengungkapkan tentang maraknya pembajakkan. Bukan hanya buku, tetapi juga berbagai produk yang produknya dibajak. Kita mungkin melihat biasa saja hal tersebut, tetapi ternyata dampaknya luar biasa bagi pemilik produk asli. 

Penulis satu ini termasuk salah satu penulis yang peduli tentang pendidikan moral bagi anak-anak. Sehingga melalui buku-bukunya Tere Liye memberi pelajaran tentang kehidupan sehati-hari, bahayanya korupsi dan lain sebagainya. Seperti dalam buku Si Anak Badai yang berisi tentang korupsi pembangunan pelabuhan di daerah Kalimantan.

Pemilik produk asli, demi menciptakan suatu produk berfikir dengan sungguh-sungguh. Menghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Demi apa coba. Demi sebuah karya. Berharap karya tersebut laku dan pencipta produk bisa menerima penghasilan lewat penjualan produk tersebut. Tetapi, saat produk tersebut dibajak atau ditiru, maka pencipta asli tidak akan menerima hasil dari penjualan produk bajakan tersebut. Yang akan menerima hasil adalah pelaku pembajakan.

Melalui buku ini kita bisa mengetahui bawasannya pembajakkan di negara kita ini sudah sangat memprihatikan. Hal ini seperti mata rantai yang sulit diputuskan. Karena antara pembajak dan pembeli barang bajakan seperti dua sisi yang tidak bisa dipisahkan.

Posisi Sintong yang menjaga kios buku bajakan menunjukkan pada kita bahwa Sintong mengetahui itu sesuatu yang salah, tetapi untuk berhenti dia takut. Karena kuliahnya dibiayai dari dia bekerja disitu. Hal ini mengakibatkan kuliahnya menjadi terbengkalai beberapa tahun. Hingga mencapai tahun ketujuh dia belum juga lulus dari sana. Dosen pembimbing berapakali sudah memperingatkannya.

Isi buku ini memang pembelajaran tentang pembajakan. Efek yang ditimbulkan bagi pemilik asli, pelaku pembajakan, penjual barang bajakan sampai pembeli barang bajakan. 

Meskipun berisi tentang pembajakan, namun buku ini tetap menyuguhkan kisah romantisnya. Semasa SMA Sintong menyukai teman SMA nya, namanya Mawar Terang Bintang. Namun, kandas karena Mawar lebih memilih menikah dengan Binsar seorang tentara berpangkat letnan dua. Di akhir kuliah Sintong bertemu dengan Jess, seorang mahasiswi tahun kedua. Akankah Sintong memilih Jess?

Yang menarik dari buku-buku Tere Liye adalah pesan-pesan yang disampaikan dalam bentuk cerita. Sehingga buku semakin menarik. Seperti pesan atau sindiran terdapat pemerintahan yang tidak sehat. 

Dalam buku ini juga bercerita tentang Sintong yang menulis skripsi tentang Sutan Pane, seorang penulis terkenal yang berani menulis tentang keadaan sebenarnya pada tahun 1950-1965. Namun, penulis tersebut hilang tanpa jejak beberapa hari sebelum pemberontakkan PKI tahun 1965.

Di bagian akhir buku ini kita akan dibawa ke Gunung Gede di Jawa Barat, tentang pos-pos pendakian di gunung tersebut. Tentang cerita seorang gadis kecil bernama Ratu yang harus putus sekolah dan terpaksa menjadi penjual air di gunung Gede. Padahal Ratu adalah salah satu cucu penulis terkenal yang karyanya sangat laris. Tetapi, karena yang laris buku bajakkannya. Maka, penulisnya tidak mendapatkan apa-apa. Jangankan warisan, untuk biaya berobat saja, pengarang tersebut tidak mempunyai uang.

Dari buku ini banyak pesan yang bisa kita petik. Tentang cinta, jahatnya pembajakan, kejujuran yang semakin lama semakin terkikis.

Tere liye berpesan,"Mungkin tulisan kita tidak sampai kepada orang yang dituju(pemerintah, pembajak,dll). Tetapi, tulisan itu akan tetap hidup dan dibaca oleh generasi penerus yang kelak akn menggantikan orang-orang yang kita kritik."


Kita bisa memperbaiki semuanya. Bagaimana memulainya? Mulailah dengan mengucapkan kalimat itu kepada diri kita. Ucapkan dengan gagah, "Selamat Tinggal" semua keburukan masa lalu, "Selamat Tinggal" semua kebodohan dan ketidakpedulian itu. Sungguh, Selamat Tinggal".
Dan "Selamat Datang" revolusi.
Sutan Pabe, Jakarta,1965.

 Penasaran dengan bukunya. Segera kunjungi toko buku terdekat atau juga bisa membeli via online. Tidak punya uang, silahkan pinjam ke perpustakaan atau teman. Mudahkan.

Happy reading😊😊








 


Posting Komentar

2 Komentar

  1. Bagaimana kalo perpustakaan tidak ada bukunya juga mbak, mau ke teman ngga ada yang hobi baca buku, hobinya pada main hape.😂

    Tapi memang benar sih pembajakan merugikan penulis dan penerbit, padahal untuk menulis sebuah buku diperlukan riset yang butuh biaya dan juga pikiran yang fokus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beli di google book saja.
      Memang beli barang bajakan itu murah. Tetapi barang bajakan kualitas pasti lebih rendah dari barang asli.
      Dan kita kembalikan pada diri sendiri, kalau barang kita dibajak orang. Pastinya kita sakit hati😊😊

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.