Advertisement

Responsive Advertisement

[Resensi Novel] Midah Simanis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer




Judul: Midah Simanis Bergigi Emas
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Halaman: 134

Novel lama? Memang iya. Tapi, saya baru sempat membacanya beberapa bulan lalu. Dan, baru sempat menulis resensinya sekarang. Novel karya Om Pram(nama panggilan Pramoedya Ananta Toer) ini bercerita tentang sosok Midah anak Hadji Abdul. Keluarga yang taat pada agama.

Setting novel ini bertempat di Jakarta pada warsa 50-an atau 5 tahun sesudah kemerdekaan negara kita.

Midah adalah anak perempuan berkulit kuning. Wajahnya bulat. Dan, kalau tersenyum manis sekali.

Hingga usia sambilan tahun,  Midah sangat dimanja oleh Hadji Abdul yang menggemari musik-musik berbau Arab. Setiap sore dia selalu dipangku bapaknya untuk mendengarkan musik tersebut. 

Selama sambilan tahun usia Midah, perhatian seluruh keluarga hanya tertuju pada dia. Maklum, saat itu dia belum memiliki saudara. Hingga di tahun kesepuluh lahir adik laki-lakinya. Disusul adik-adiknya yang lain selang 1 tahun kemudian.

Kelahiran adik-adik Midah ini membuat perhatian Hadji Abdul dan keluarga lain terbagi untuk anak-anak lain. Akibatnya Midah sering keluar rumah untuk mendapatkan perhatian dan hiburan.

Saat Midah jalan-jalan bertemu dengan grup musik keroncong. Dan, dia menyukainya. Semakin lama semakin suka. Puncaknya dia berani memutar musik itu di rumah mengantikan musik arab kesukaaan bapaknya. Hal ini tentu saja membuat Hadji Abdul marah besar.

Akibatnya Midah dipaksa untuk menikah dengan seorang lelaki bergelar Hadji, dari kampung bapaknya. Ternyata Midah dijadikan istri kedua oleh lelaki tersebut. 

Kehidupan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Midah membuatnya mengambil keputusan lari dari suaminya. Meskipun saat itu dia dalam keadaan hamil.

Hidup dijalanan mulai dijalani Midah sebagai penyanyi keroncong keliling. Dari satu tempat ke tempat lain. Hingga dia dipertemukan dengan seorang polisi bernama Ahmad yang juga menyukai musik keroncong. Berkat bantuan Ahmad pula Midah bisa menyanyi di Radio dan dikenal masyarakat luas.

Hubungan Midah dan Ahmad lama kelamaan semakin dekat, hingga Midah hamil. Namun, Ahmad tidak bersedia menikahi Midah karena dia anak tunggal kebangaan orang tuanya. Dia takut merusak nama baik keluarga, jika menikahi Midah. Meskipun mereka sama-sama mencintai.

Meskipun Ahmad tidak mau menikahinya, Midah tetap mempertahankan bayi hasil hubungan mereka. Demi, menjaga nama baik keluarga, Midah menitipkan anak pertama hasil pernikahannya kepada orang tuanya. Dan memutuskan meninggalkan rumah orang tuanya dengan kehamilan anak kedua, hasil hubungannya dengan Ahmad.

Selepas dari rumah orang tuanya karier Midah semakin memuncak. Bukan hanya sebagai penyanyi keroncong saja, tetapi juga sebagai bintang film juga.

Lama kelamaan hidup Midah berpindah dari satu laki-laki ke lelaki lain. Dan, pundi-pundi uangnya cukup banyak.

Meskipun novel lama, tetapi pesan novel ini bisa diterapkan dalam kehidupan sekarang. Bawasannya perhatian keluarga terhadap seorang anak itu sangat penting untuk tumbuh kembang anak di masa depan.